SABAR

1 02 2010

SABAR

Bismilahirahmanirrahim

Allah menjadikan sabar sebagai kendaraan yang tidak pernah letih, senjata yang tidak pernah salah membidik sasaran, perajurit pemenag yang tidak pernah kalah, dan benteng kokoh yang tidak pernah rusak. Sabar dan kemenagan bagai dua saudara kandung. Dalam Al-quran, Allah memuji orang-orang yang sabar dan memberi tahukan bahwa pahala mereka akan di sempurnakan tanpa batas. Allah selalu bersama mereka dengan hidayah-Nya dan pertolongan-Nya yang tak terkalahkkan, dan bantuan-Nya yang nyata.

Allah berfirman,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

‘’dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.’’(Al-Anfal:46)

Sehingga orang-orang sabar dengan kebersamaan ini akan mendapatkan kebaikan didunia dan diakhirat dan memperoleh kemenagan dengan nikmat-nikmat-Nya lahir dan batin. Allah anugrahkan Imamah (kepemimpinan) dalam agama kepada mereka yang sabar dan yakin. Allah berfirman, Baca entri selengkapnya »

Iklan




KHAUF (TAKUT)

29 01 2010

KHAUF (TAKUT)

Bismillahirahmanirrahim

Khauf (takut), adalah cambuk Allah yang di gunakan memicu hamba-hamba-Nya kepada ilmu dan amal, supaya mereka dekat dengan Allah. Ia adalah ungkapan tentang sakit dan terbakarnya hati, karna khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak menyenagkan di masa mendatang. Khauflah yang mampu menahan angota-angota tubuh dari mengerjakan kemaksiatan dan mengikatnya dengan ketaatan. Khau yang lemah akan mendorong seseorang untuk lalai dan berani mengerjakan dosa, sedangkan berlebih-lebihan dalam khauf akan menyebabkan semaggat dan keputusasaan. Khauf kepada Allah adakalanya karna ma’rifatullah (mengetahui Allah), mengetahui sifat-sifat-Nya, serta mengeatahui bahwa bila Allah inggin membinasakan seluruh alam, Dia tidak akan peduli, dan tidak akan bisa di halangi oleh siapa pun, adakalanya karna banyaknya kesalahan hamba, karna mengerjakan maksiat, dan terkadang karna keduanya sekaligus, pengetahuaannya tentang aib dan kekurangan dirinya serta kebesaran Allah, dan Allah tidak mebutuhkan hamba, dan Allah tidak akan ditanya tentang berbagai tindakan-Nya, sementara manusia akan ditanya, sesua dengan kekuatan khaufnya. Baca entri selengkapnya »





TAWASUL DENGAN AMAL SHALEH

29 01 2010

TAWASUL DENGAN AMAL SHALEH

Bismilahirrahmanirrahim

Rasulallah saw. Bercerita, ‘’Ada tiga orang dari umat sebelum kalian melakukan perjalanan hingga menjelang malam. Mereka pun bermalam di sebuah gua. Ketika mereka memasuki gua itu, tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari atas bukit dan menyumbat mulut gua. Mereka berkata kepada diri mereka masing-masing, ‘’Kita tidak akan bisa menyelamatkan diri, melainkan bila memohon kepada Allah dengan perbuatan shahih yang pernah kita lakukan.’’

Salah seorang dari mereka bedoa, ‘’Ya, Allah, hamba dulu mempunyai bapak dan ibu yang sudah tua renta. Hamba senantiasa memberi minum kedua orang tua hamba, sebelum memberi minuh kelaurga dan anak-anak hamba. Pada suatu hari karna pekerjaan hamba mencari kayu, membuat hamba pergi terlampau jauh hingga tidak bisa pulang dan mereka pun tertidur menunggu kedatangan hamba. Sampai dirumah, hamba langsung memerah susu untuk keduanya, tapi mereka sudah tertidur pulas. Hamba merasa segan untuk membangunkan mereka dan hamba pun tidak mau memberi minum keluarga dan anak-anak hamba sebelum mereka berdua minum terlebih dahulu. Lalu hamba memutuskan untuk tetap menuggu dengan periuk di tangan hingga fajar menyingsing dan anak-anak hamba merintih kelaparan merajuk di kaki hamba. Tak lama kemudia kedua orang tua hamba bangun dan mereka bisa minum susu yang telah hamba siapkan. Ya, Allah, jika menurut-Mu hamba melakukan semua itu demi mengharap keridhaan-Mu, maka lepaskanlah kami dari batu penghalang yang menimpa kami!’’ Tiba-tiba batu yang menyumbat mulut gua itu bergeser, tetapi belum cukup begi mereka untuk bisa keluar dari gua tersebut.

Salah seorang dari mereka yang lain berdoa, Ya, Allah, hamba dulu mepunyai saudara sepupu perempuan dan dia adalah orang yang paling hamba cintai. Hamba terus berusaha membujuknya untuk bercinta, namun ia menolak hasrat cinta hamba. Hingga akhirnya datang musim kemarau yang panjang (paceklik), ia pun menemui hamba, hamba memberinya 120 dinar dengan syarat ia mau melayani keinginan hamba, maka ia menyanggupinya. Sampai ketika hamba hendak menjamahnya, ia berkata, ‘’Takutlah kepada Allah! Dan janganlah engkau jamah kehormatanku ini, kecuali setelah menjadi hakmu.’’ Mendengar perkataan itu hamba pun pergi meniggalkannya. Dan dia tetap orang yang paling hamba cintai, kemudian hamba memberikan emas kepadanya. Ya, Allah, jika hamba melakukan perbuatan ini karna mengharap keridhaan-Mu, maka lepaskanlah kami dari apa yang menimpa kami ini. Seketika itu, batu yang menutupi mulut gua itu terkuak, namun mereka masih belum bisa keluar dari gua tersebut.

Giliran lelaki yang ketiga berdoa, Ya, Allah, hamba dulu sering menyewa pekerja dan senantiasa memberikan mereka upah, kecuali seorang dari mereka yang pergi dan tidak tahu kemana perginya. Hamba pun memutuskan untuk menginvestasikan upah orang itu hingga menjadi banyak. Suatu ketika sipekerja itu datang kepada hamba dan berkata, ‘’Wahai hamba Allah, berikan kepadaku upah pekerjaanku  dahulu!’’ Maka hamba berkata kepadanya, ‘’Semua yang engkau lihat, unta, sapi, kambing, dan budak-budak itu adalah upahmu.’’ Orang itu berkata, ‘’Wahai hamba Allah, janganlah bergurau denganku!’’ Hamba menjawab, ‘’Aku tidak bergurau!’’ Maka orang itu mengambil semua hartanya dan tidak menyisahkan sedikitpun dari harta itu. Ya, Allah, jika hamba melakukan semua itu demi mengharap keridhaan-Mu, maka lepaskanlah kami dari musibah yang menimpa kami!’’ Maka terbukalah batu yang menyumbat mulut gua itu, sehingga mereka bertiga bisa keluar dari gua itu dengan selamat.’’ (HR.Bukhari dan Muslim)

‘’Wallahu’alam’’





SARAH DAN RAJA YANG ZALIM

28 01 2010

SARAH DAN RAJA YANG ZALIM

Bismillahirahmanirrahim

Abu Hurarah ra. Mengisahkan bahwa Rasulallah saw bersabda, ‘’Nabi Ibrahim adalah seorang nabi yang sama sekali tidak perbah berdusta, kecuali dalam tiga keadaan. Dua keadaan yang dilakukan demi Allah, yaitu ucapan Nabi Ibrahim ‘’Sesumngguhnya aku sakit’’ (Ash-Shaffat:88) dan ucapanya ‘’Sebenarnya patung besar inilah yang telah melakukannya.’’ Dan yang lain berkaitan dengan Sarah. Sebenarnya Ibrahim bersama Sarah pernah datang kewilayah seorang raja yang zalim. Sarah adalah seorang wanita yang paling cantik. Nabi Ibrahim berkata kepad Sarah. ‘’Sungguh jika raja zalim itu tahu bahwa kamu adalah isteriku, tentu dia akan memaksaku untuk menyerahkanmu. Jika ia bertanya padamu, maka katakan kepadanya bahwa kamu adalah saudara perempuanku. Sesungguhnya kamu memang saudara perempuanku dalam Islam. Karna di wilayah ini aku tidak melihat seorang muslim pun selain engkau dan aku.’’

Ketika Nabi Ibrahim memasuku wilayah raja zalim itu, salah seorang rakyatnya melihat Sarah. Lalu ia datang menghadap raja zalim tersebut dan melaporkannya, ‘’Telah datang ke wilayah paduka seorang wanita yang hanya patut menjadi milik paduka.’’ Kemudian raja tersebut mengirimkan utusan kepada Sarah dan membawanya pada saat Nabi Ibrahim as. Sedang melakukan shalat.

Tatkala Sarah dibawa kehadapan raja, sang raja tidak mempu menahan dirinya untuk memeluk Sarah, namun kedua tangannya serasa terkunci. Sangraja berkata pada Sarah, ‘’Berdoalah kepada Allah agar ia melepaskan tanganku. Aku berjanji tidak akan menganggumu.’’lalu Sarah berdoa, dan tangan sang raja pun sembuh. Namun ia mengulangi perbuatanya ingin memeluk Sarah, maka tangannya pun terkunci untuk kedua kalinya, lebih kuat dari yang pertama. Raja mengulangi ucapanya, dan Sarah mendoakannya, tangan sang raja pun sembuh. Akan tetapi lagi-lagi raja bermaksud memeluk Sarah, namun tangannya pun kembali terkunci, lebih kuat dari yang pertama dan kedua. Raja berkata, ‘’Brdoalah kepada Allah agar ia melepaskan tanganku. Demi Allah aku bersumpah tidak akan menganggumu lagi.’’ Sarah melakukan permintaannya dan tangan sangraja tersebut kembali sembuh. Lalu sang raja memangil orang yang membawa Sarah dan membentaknya. ‘’Yang  kamu bawa kepadaku sebenarnya setan bukan manusia. Usir dia dari wilayahku dan hadiahkan hajar padanya.’’

Abu Hurarah meneruskan ceritanya, ‘’Sarah kembali dengan berjalan kaki. Ketika Nabi Ibrahim as. Melihatnya, beliau menyambutnya seraya berkata, ‘’Bagaimana kabarmu?’’ Sarah menjawab, ‘’Aku baik-baik saja. Allah telah mengunci tangan orang yang ingin membuat jahat dan memberiku seorang pembantu.’’ Abu Hurarah berkata, ‘’Dia (pembantu) itu adalah Ibu kalian, wahai orang-orang Arab.’’ (HR.Bukhari dan Muslim)

‘’Wallahu’alam’’





KISAH BAYI YANG BERBICARA PADA IBUNYA

28 01 2010

KISAH BAYI YANG BERBICARA PADA IBUNYA

Bismillahirahmanirrahim

Abu Hurarah ra mengisahkan, ‘’Seorang perempuan dari Bani Israel menyusui anaknya. Saat itu seorang lelaki berlalu menuggai kuda dengan penampilan menarik. Sang Ibu diam-diam bergumam, ‘’Ya, Allah, jadikanlah anakku seperti dia!’’ Seketika sang anak melepaskan tetek dan menatap wajah Ibunya. Ia pun berkata, Ya, Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti dia. ‘’Setelah itu ia kembali menikmati susu Ibunya.

Abu Hurarah ra berkata, ‘’Aku teringat Rasulallah saat beliau bercerita bahwa sewaktu kecil, beliau sering menghisab jempol jarinya saat beliau masih menyusu pada Ibunya.

Kemudian Abuhurarah berkata, ‘’Lalu ibu itu menyaksikan seorang budak wanita yang diseret-seret dan dipukuli sembari dituduh bahwa ia telah berzinah dan mencuri. Sibudak wanita itu hanya bisa menjawab tuduhan mereka dengan berkata, ‘’Aku serahkan segalanya pada Allah swt dan Dialah sebaik-baik penolong .’’Sang Ibu berkata dalam hatinya, ‘’Ya, Allah, janganlah Egkau jadikan anakku seperti budak itu!’’ Si bayi lagi-lagi melepas tetek Ibunya dan berkata, ‘’Ya, Allah, jadikanlah aku seperti dia!’’

Sang Ibu merasa keheranan. Ia bertanya kepada bayinya, ‘’Tadi saat seorang lelaki gagah lewat dan kemudian aku berdoa, Ya, Allah jadikanlah  anakku seperti lelaki itu, kamu malah berkata, Ya, Allah janganlah Engkau jadikan aku seperti dia! Ketika melihat seorang budak wanita yang dipukuli oleh orang karna mereka menuduhnya  berzinah dan mencuri. Dan aku berdoa Ya, Allah jangan kau jadikan anakku sepertinya, kamu malah mengatakan, Ya, Allah, jadikanlah aku seperti budak itu?’’Sibayi menjawab, ‘’Lelaki gagah itu adalah orang zalim. Oleh karna itu aku berdoa, Ya, Allah janganlah Engkau jadikan aku seperti dia. Sedangkan budak wanita itu ia dituduh mencuri, padahal sebenarnya dia tidak melakukannya. Maka aku memohon Ya, Allah jadikanlah aku seperti wanita itu. (HR.Bukhari dan Muslim)

‘’Wallahu’alam’’





LELAKI AHLI SURGA

28 01 2010

LELAKI AHLI SURGA

Bismillahirahmanirrahim

Anas bin Malik ra. Mengisahkan, ‘’Kami sedang duduk bersama Rasulallah saw. Beliau bersabda, ‘’Nanti akan lewat seorang ahli surga.’’ Saat itu juga seorang sahabat Anshar muncul sembari menyela-yela jengotnya untuk mengusap bekas wudhu. Tangan kirinya menebteng sendal. Keesokan harinya Rasulallah  saw. Kembali mengatakan hal yang sama dan muncul sahabat Anshar itu. Dihari ketiga Rasulallah berkata seperti sebelumnya. Dan masih sahabat Anshar itu yang muncul. Ketika Rasulallah beranjak pergi , sahabat Abdullah bin Umar membuntuti sahabat Anshar itru. Ia berkata kepadanya, ‘’Aku sedang bertengkar dengan ayahku. Aku bersumpah tidak akan tingal bersamanya selama tiga hari. Jika engkau ijinkan, aku ingin tingal bersamamu selama itu.’’ Sahabat itu menjawab, ‘’Baiklah’’ Adullah bin Umar bercerita bahwa ia tingal bersamanya selama tiga hari. Selama itu ia tidak melihatnya bangun malam untuk beribadah, melainkan ketika bangun ia selalu berdoa dan bertakbir hingga menjelang shaalat subuh. Abdullah bin Umar mengisahkan, ‘’Aku hanya mendengar ia selalu mengucapkan kebaikan. Selama tiga malam itu hampir saja aku remehkan semua yang ia lakukan. Akhirny aku putuskan untuk bertanya kepadanya, ‘Wahai hamba Allah, sebenernya tidak pernah terjadi perselisihan antara aku dan ayhku. Aku mendengar Rasulallah saw. Berkata sebanyak tiga kali ‘Nanti akan lewat seorang ahli surga,’ ternyata kamulah orangnya. Aku lantas ingin tingal bersamamu untuk mengetahui lebih dekat semua yang kamu lakukan. Tetapi sampai saat ini aku tidak melihatmu melakukan sesuatu yang luar biasa dan berharga. Aku bertanya kepadamu , apa sebabnya yang menyebabkan Rasulallah mengatakan demikian?’’ sahabat itu menjawab, ‘’Aku hanyalah sebagaimana yang kamu lihat.’’ Mendengar jawabanya aku beranjak meniggalkannya. Tapi kemudian dia berseru, ‘’Aku hanyalah sebagaimana yang kamu lihat, tetapi memang tak pernah terbetik dalam hatiku perasaan dengki pada orang-orang muslim yang lain, atau iri terhaadap semu yang Allah anugrahkan kepada mereka.’’ Abdullah menimpali, ‘’ini dia yang menyebabkan kamu menjadi ahli surga.’’ (HR.Ahmad dengan sanad menurut syarat Bukhari, Muslim, dan An-Nasa’i)

‘’Wallahu’alam’’





MUHASABAH

27 01 2010

MUHASABAH

Bismilahirahmanirrahim

Cara untuk mengatasi kekuasaan nafsu ammarah atas diri seorang mukmin adalah dengan selalu menginterospeksi dan menghadangnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Amad,

‘’Orang yang cerdas adalah orang yang menginterospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupan sesudah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan keinginan hawa nafsunya dan berangan-angan untuk mendapatkan sesuatu dari Allah’’

Imam Amad menceritakan bahwa Umar bin Khatab berkata, ‘’Introspeksilah dirimu sebelum ia dihisab dan timbang-timbanglah dirimu sebelum ia ditimbang, jika kamu menghisab dirimu sekarang, maka kamu akan lebih ringan pada hari kiamat kelak, dan berhiaslah untuk hari perkumpulan terbesar, يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ ‘Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (dari Allah).’’ (Al-Haaqqah:18)

Hasan berkata, ‘’Seorang mukmin akan bertanggungjawab atas dirinya sendiri, dia menghisab dirinya untuk Allah, hisab pada hari kiamat akan lebinh ringan bagi kaum yang menghisab dirinya di dunia, dan akan lebih berat bagi kaum yang membiarkan dirinya tanpa hisab.’’

Seorang mukmin akan kagum dan tertarik pada sesuatu, lalu berkata, ‘’Demi Allah, sungguh aku sangat mengiginkanmu, dan kamu benar-benar aku perlukan, namun Allah melarangku untuk mendekatimu, sehingga aku tidak mungkin mendapatkanmu, karna adanya penghalang antara aku dan kamu.’’ Tetapi sesuatu itu begitu menguasai hatinya, lalu dia melakukan introspeksidiri seraya berkata, ‘’Aku tidak menginginkan ini! Apa hubungannya aku dengan ini?! Demi Allah, aku tidak akan kembali kepada hal ini untuk selama-lamanya.’’ Orang-orang yang beriman adalah keum yang dibimbing oleh Al-Quran dalam menghadang kebinasaan, seorang mukmin adalah tawana di dunia yang berusaha membebaskan diri, tidak pernah merasa aman hingga bertemu dengan Allah, dia menyadari akan dihukum karna ulah pendegaran,penglihatan, lisan, dan angota-angota tubuhnya yang lain.’’

Malik bin Dinar berkata, ‘’Semoga Allah merahmati hamba yang berkata kepada dirinya sendiri, ‘Bukankah kamu pelaku dosa begini? Bukankah kamu pelaku dosa begini?, lalu dia mencelanya, kemudian mendiamkannya, setelah itu menharuskannya untuk mengikuti Al-Quran, dan menjadikannya sebagai pegangan.’’

Maka orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat wajib jangan sampai melalikan muhasabah, dan mempersempit gerakan nafsu dan diamnya, serta angan-angan hatinya, karna setiap nafas sepanjang hidup ini adalah mutiara yang sangat mahal dan bisa digunakan untuk membeli perbendaharaan harta dan kenikmatan yang tidak akan pernah habis dan rusak untuk selama-lamanya, sehingga menyia-nyiakan turun naiknya nafsu, atau mempergunakannya untuk membeli sesuatu yang akan mendatangkan kebinasaannya adalah kerugian yang sangat besar, hanya orang yang paling bodoh, dungu, dan tidak berakal yang akan melakukan teransaksi seperti itu dan kerugian ini akan tampak pada hari kiamat kelak, Allah berfirman,

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

‘’Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapanya, begitu (juga) kejahatan yang telah dia kerjakan, dia ingin kalau kiranay antara dia dengan hari itu ada masa yang jauh,’’ (Ali-Imran:30)

Muhasabah jiwa itu ada dua jenis: pertama, pra amal, dan yang kedua pasca amal.

Jenis yang pertama, seorang hamba hendaklah merenug beberapa saat jika suatu keinginan muncul, tidak langsung bertindak sehingga keunggulan mengerjakannya jelas lebih baik daripada menigalkannya. Hasan berkata, ‘’Semoga Allah merahmati seorang hamba yang merenug saat berniat untuk melakukan sesuatu, jika ia karna Allah, dia pantas meneruskannya, tapi jika tidak karna Allah, maka dia harus berusaha menahan diri dan tidak melakukannya.’’

Sebagian ulama menjelaskan apa yang disampaikan oleh Hasan Al-Basri ini, ‘’Jika jiwa tergerak untuk melakukan sesuatu amal, maka langkah pertam yang harus dia lakukan adalah merenug dan berpikir terlebih dahulu, apakah amal itu mampu dia lakukan, atau tidak, jika tidak, maka dia tidak akan melakukannya, namun jika mampu, dia akan kembali merenung dan berpikir, apakah mengerjakannya lebih baik daripada menigalkannya, atau sebaliknya, jika pilihannya jatuh pada yang kedua, maka dia akan meniggalkannya, sedamngkan jika pilihannya jatuh pada yang pertama, maka dia harus merenung kembali untuk ketiga kalinay, apakah pemicunya akan mendapatkan ridha dan pahala dari Allah Azza wa Jalla atau akan memperoleh pangkat, pujian, atau harta benda!!! Jika pilihannya jatuh pada jatuh pada yang kedua, maka dai harus meniggalkannya, meski dia akan memperoleh apa yang dia inginkan, agar jiwa tidak terbiasa melakukan kemusyrikan dan merasa mudah mengerjakan amal untuk selain Allah.

Jika seorang hamba sudah menghindari amal-amal selain Allah, maka akan semakin mudah pula baginya melakukan amal untuk Allah Ta’ala. Tapi jika pilihannya jatuh pada yang pertama,, dia kembali harus merenung dan berpikir, apakah dia akan mendapatkan bantuan atau penolong. Jika dalam melakukan amal dai akan mendapatkan bantuan, hendaklah dia merealisasikannya dengan izin Allah, niscaya dia akan memperoleh keuntungan. Dan jika tidak mendapatkan bantuan, sebaiknya dia berusaha menahan diri, sebagaimana Nabi saw tidak memerangi orang-orang musyrik di Makkah hingga beliau mempunyai kekuatan dan penolong. Jika dia mendapatkan bantuan, ketika itu dia boleh melakukannya dan akan sukses atas izin Allah. Sementara kesuksesan tidak akan dapat tercapai, kecuali dengan menghilangkan salah satu sifat dari sifat-sifat diatas, dan sebaliknya, dengan terhimpunya sifat-sifat, dia pasti akan mendapatkan kesuksesan, dan inilah empat perkara yang perlu direnugkan oleh seorang hamba sebelum beramal.

Jenis yang kedua, muhasabah jiwa pasca amal. Ini terdiri dari tiga macam:

Pertama, muhasabah jiwa dalam ketaatan, hak Allah yang tidak dia tunaikan dengan sempurna dan tidak pula menurut cara yang semestinya. Dan hak Allah dalam ketaatan terdiri dari enam perkara yaitu, ikhlas dalam beramal, setia kepada Allah dalam beramal, mencontoh Rasulallah saw dan mengerjakannya dengan ikhsan (seolah-olah melihat Allah atau dilihat oleh-Nya), merasakan anugrah Allah atasnya, dan mengakui keteledoran dan kekurangannya dalam beramal. Dia mengintrospeksi dirinya, apakah dia sudah menunaikan semua ini dengan sempurna atau masih sebaliknya?

Kedua, menghisab dirinya atas semua amal yang meniggalkannya jauh lebih baik daripada mengerjakannya.

Ketiga, menghisab dirinya atas semua yang mubah, mengapa dia mengerjakannya, dan apakah dia menginginkan Allah dan kampung akhirat, sehingga menjadi orang yang beruntung. Atau menginginkan dunia dan kesenagannya, sehingga tidak mendapatkan keuntungan apa-apa bahkan mendapatka kerugian.

Ada juga orang yang suka menunda-nunda amal, menolak muhasabah, langsung bertindak, dan menganggap mudah dan ringan, padahal semua itu akan mengantarkannya kejurang kebinasaan, beginilah keadaan orang yang terbedaya, dia tidak peduli dengan berbagai keburukan dan selalu berpegang pada ampunan Allah, sehingga dia meremehkan muhasabah dan tidak mempedulikan akibat perbuatannya yang tidak baik. Jika dia mencoba untuk muhasabah dirinya, namun mengerjakan dosa akan lebih mudah baginya, menyenagi dan sulit menghindarinya.

  • Kesimpulannya, pertama-tama seorang hamba harus memuhasabah dirinya dalam hal-hal yang bersifat fardhu, bila dia merasa ada keraguan dalam melakukannya, baik dengan qadha ataupun dengan perbaikan. Kedua, dia mesti menghisabnya dengan larangan-larangan. Jika dia menyadari bahwa dirinya suadah melakukan kemaksiatan, dia akan memperbaiki dirinya dengan bertaubat, istighfar, dan kebaikan-kebaikan yang akan menghapuskan kesalahan. Ketiga, menghisab diri atas kelalaiannya,bila dia lalai dari tujuan utama penciptaannya, maka dia akan menyusulinya dengan zikir dan menghadap kepada Allah Ta’ala. Keempat, menghisabnya atas apa yang dia bicarakan, dilangkahkan kakinya, dipukul dengan tangannya atau didengar oleh telinganya, apa yang aku harapkan dari semua ini, mengapa aku harus mengerjakannya, untuk siapa aku mengerjakannya, dengan cara bagaimana aku mengerjakannya, dan dia harus menyadari bahwa dia akan mendapatkan dua pertanyaan bagi semua gerak dan kata. Untuj siapa kamu mengerjakannya? Dan bagaimana kamu mengerjakannya? Yang pertama adalah pertannyaan tentang keikhlasan, sedangkan yang kedua adalah pertanyaan tentang meneladani Rasulallah saw.

لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ وَأَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا أَلِيمًا

Allah berfirman, ‘’Agar dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih’’ (Al-Ahzab:8)

Bila orang-orang yang benar saja akan ditanya dan dihisab tentang kebenaran mereka, lalu bagaimana dengan para pendusta?….sudah barang tentu meraka pun akan dihisab.

Manfaat muhasabah

1. Mengetahui cela diri, siapa yang tidak tahu cela dan kekurangaan dirinya, maka dia tidak akan mampu menghilangkan dan membuambuangnya.

Yunus bin Ubaid menceritakan, ‘’Sungguh aku mengetahui sifat-sifat terpuji, aku tidak mengetahui satupun diantaranya ada dalam diriku.’’

Muhammad bin Wasi berkata, ‘’Andaikata dosa mengeluarkan bau yang tidak sedap, tentu tidak akan ada yang mau mendatangi majlisku.’’

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Darda, dia berkata, ‘’Seseorang tidak benar-benar dikatakan ahli dalam agama, sehingga dia mencela orang-orang karna Allah, lalu dia mengoreksi dirinya sendiri dan mencacinya lebih keras dari yang pertama.’’

2.  Mengetahui hak Allah, karna yang demikian itu akan membuaatnya mampu mencela dirinya sendiri dan membebaskannya dari sifat ujub dan ria, ia juga membukakan pintu ketundukan, kehinaan, dan kelemahan dihadapan Allah. Dan kesuksesan tidak akan dapat dicapai, kecuali dengan ampunan, dan Rahmat dari Allah semata, sebab termasuk haknya adalah dita’ati, tidak didurhakai, diingat tidak dilalaikan dan disyukuri serta tidak diingkari.

‘’Wallahu’alam’’

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah