‘’Tsa’labah’’

25 02 2010

‘’Tsa’labah’’

Bismillahirrahmanirrahim

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib? (At-Taubah: 75-78)

Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili ra ia berkata,

‘’Tsa’labah bin Hathaib Al-Anshari datang kepada Rasulullah saw dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah, agar dia memberiku harta.’

Rasulullah saw bersabda, ‘Celakallah engkau, wahai Tsa’labah. Sedikit harta yang engkau syukuri itu lebih baik dari harta yang tidak sangggup engkau tanggung.’ Tsa’labah bin Hathib Al-Anshari datang lagi kepada Raulullah saw dan berkata kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah, agar dia memberiku harta.’ Rasulullah bersabda saw,’ Bukankah pada diri Rasulullah ada teladan baik bagimu? Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andai aku ingin gunung-gunug berjalan denganku dalam bentuk emas dan perak, maka itu pasti terjadi.’ Pada hari lain Tsa’labah bin Hathib datang kepada Raulullah saw lalu berkata, ‘ Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah, agar dia memberiku harta. Demi dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, andai Allah memberiku harta, aku pasti memberikan hak kepada masing-masing yang berhak.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Ya, Allah anugrahkan harta kepada Tsa’labah.’ Setelah itu Tsa’labah memlihara kambing dan kambingnya berkembang dengan cepat seperti cacing, hingga madinah tidak cukup untuk menampungnya. Lalu Tsa’labah pindah dari madinah dan menetap disalah satu lembah madinah dan kambingnya tetap berkembang dengan cepat seperti cacing. Tadinya, ia mengerjakan shalat Dzuhur dan Ashar berjama’ah bersama Rasulullah saw. Lalu, ia mengerjakan seluruh shalat  di tengah kambing-kambingnya. Kambingnya terus berkembang, hingga akhirnya ia pindah lagi ketempat agak jauh dari madinah. Dan ia pun hanya datang kemadinah untuk mengerjakan shalat jum’at. Kambingnya terus berkembang, hingga akhinya ia pindah lagi ketempat lebih jauh dari madinah, hingga akhirnya ia tidak mengerjakan shalat jum’at dan shalat berjama’ah.

Pada hari jum’at, Tsa’labah keluar dan bertemu kaum muslimin. Ia pun bertanya kepada mereka tentang berbagai hal. Pada suatu hari, Rasulullah ingat Tsa’labah dan bersabda,’ Bagaimana kabar Tsa’labah?’ para sahabat mejawab,’Wahai Rasulullah, ia memelihara kambing, hingga tidak sanggup di tampung oleh lembah.’ Rasulullah bersabda, ‘Aduh, celakanya Tsa’labah. Aduh,sungguh celaka Tsa’labah.’ Setelah itu Allah menurunkan ayat tentang zakat. Lalu, Rasulullah mengutus salah seorang dari Bani Sulaiman dan Bani Juhainah (untuk menarik zakat),sembari menulis batasan-batasan zakat serta cara mengambilnya. Beliau bersabda,’ pergilah kalian kepada Tsa’labah bin Hathib dan salah seorang dari Bani Sulaiman, lalu ambil zakat dari keduanya!’ kedua sahabat itu segera berangkat dan tiba di tempat Tsa’labah. Keduanya meminta zakat kepada Tsa’labah dan membecakan surat dari Rasulullah saw kepadanya. Tsa’labah berkata,’ini tidak lain jizyah. Ini sama dengan sejenis jizyah.’ Kalian pergi dulu hingga urusan kalian berdua selesai, lalu temui aku lagi!’ kedua sahabat itu pergi dari tempat Tsa’labah dan kedatangannya tercium oleh orang dari Bani sulaiman. Lalu, orang dari Bani Sulaiman tersebut melihat mana untanya yang paling baik, lalu mengambilnya untuk dibayarkan sebagai zakat. Ia menemui dua petugas zakat dengan membewa untanya itu. Ketika kedua sahabat petugas zakat itu melihat unta orang dari Bani Sulaiman tersebut, keduanya berkata kepada orang dari Bani Sulaiman tersebut, ‘zakat yang mesti engkau bayar bukan ini.’ Orang dari Bani Sulaiman tersebut berkata, ‘Ambil saja ini, karena aku rela!’ setelah itu kedua sahabat tersebut menemui kaum muslimin lainya dan mengambil zakat dari mereka. Lau,keduanya kembali ketempat Tsa’labah. Tsa’labah berkata kepada kedua sahabat petugas zakat, ‘cobalah perlihatkan surat kalian berdua kepadaku!’ kedua sahabat itu membacakan surat yang dibawa kepada Tsa’labah, lalu Tsa’labah berkata,’ini tidak lain adalah jizyah. Ini sama saja dengan jizyah. Coba kalian pergi dulu, sebab aku ingin berfikir dulu!’ kedua sahabat itu pulang. Ketika Rasulullah melihat kedatangan kedua sahabat, beliau bersabda sebelum keduanya berbicara,’Aduh, celakanya Tsa’labah. Aduh sungguh celaka Tsa’labah.’ Setelah itu Rasulullah mendoakan orang dari Bani Sulaiman. Kedua sahabat itu pun bercerita kepada Rasulullah saw tentang kelakuan Tsa’labah. Lalu,Allah ta’ala menurunkan ayat tentang Tsa’labah,

‘’Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh’’.(At-Taubah:75)

Ketika itu di samping Rasulullah ada salah seorang kerabat Tsa’labah. Ia segera keluar dan pergi ketempat Tsa’labah, kemudian berkata,’Celaka engkau, Wahai Tsa’labah, sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat tentang dirimu.’ Lalu Tsa’labah pergi menghadap Rasulullah dan meminta bersedia menerima zakatnya. Tapi, beliau bersabda,’Sesunggunya Allah melarang menerima zakat darimu.’ Mendengar jawaban beliau seperti itu, Tsa’labah menaburkan tanah ke atas kepalanya. Rasulullah saw bersabda, ‘ini semua gara-gara ulahmu sendiri, aku sudah memerintahkan sesuatu kepadamu, tapi engkau tidak menta’atinya.’ Karena Rasulullah tidak meu menerima zakatnya, maka Tsa’labah pulang kerumahnya. Tak lama setelah itu Rasulullah saw wafat. Lalu, Tsa’labah datang kepada Abu Bakar ra (yang menjadi khalifah sepeniggalan Rasulullah saw) dan berkata kepadanya,’Terimalah zakatku!’ Abu Bakar ra berkata, ‘Rasulullah saw tidak mau menerima zakatmu dan aku juga tidak mau menerimanya.’ Abu Bakar pun meningal dunia dan tidak mau menerima zakat Tsa’labah. Ketika Umar ra menjabat sebagai khalifah, Tsa’labah datang kepada Umar dan berkata kepadanya, ‘Terimalah zakatku!’ Umar berkata, Rasulullah saw dan Abu Bakar ra tidak mau menerima zakatmu. Dan,aku juga tidak mau menerimanya.’ Ketika Utsman menjabat sebagai khalifah, Tsa’labah pun mendatangi Utsman, tapi Utsman juga tidak mau menerima zakatnya. Tsa’labah meniggal dunia pada masa kekhalifahan Utsman.’’ (Diriwayatkan Al-Baghawi dan Ath-Thabarani).

Sebagian ulama berkata bahwa Rasulullah saw tidak mau menerima zakat Tsa’labah, karena Allah ta’ala melarang beliau menerimanya, sebagai balasan baginya atas pengingkaran janjinya dan penghinaan baginya karena ucapanya, ‘’ini tidak lain adalah jizyah. Ini sama saja dengan jizyah.’’ Ketika ia berkata seperti itu, maka zakatnya ditolak sebagai bentuk penghinaan atas dirinya dan agar orang lain dapat mengambil ibrah darinya. Tidak ada salahnya memberikan zakat dengan hati ikhlas, berpendapat zakat itu wajib baginya, ia diberi pahala jika mengeluarkannya, dan di hukum jika tidak memberinya.

‘’Wallahu’alam’’





Berbeda Pendapat, Bolehkah?

19 02 2010

Berbeda Pendapat, Bolehkah?

Bismilahirahmanirrahim

A. Berbeda masalah Ushul’d Dien Dilarang

Adapun berbeda dalam masalah pokok agama (ushul’ud Dien) hukumnya haram. Pokok agama inilah yang menjadi pembeda. Apakah orang beriman atau kafir dilihat dari pokok agama ini (aqidah), bukan dari furu’ud Dien (perkara cabang agama). Sebagai contoh yang dilakukan Islam Jama’ah mengkafirkan orang islam di luar kelompoknya hanya dari furu’ud Dien, Yang demikian itu salah. Ushul’ud ini merupakan wilayah aqidah. Dalil-dalil yang menjadi dasar pembahasan masalah Ushul’ud D hanya yang Qoth’I (pasti, fix). Baik Qoth’I Tsubuts (pasti sumbernya). Dalil yang bersetatus Qoth’I  Tsubuts adalah Al-Qur’an dan Hadis yang Mutawatir. Sebagai contoh dalil tentang keimanan kepada Allah swt, kepada Malaikat, Kitab-kitab Allah swt. Keimanan terhadap kerasulan Nabi Muhammad saw. Tentang Qodho’ dan Qodar, Hari kiamat, Surga dan Neraka, dan dalil kewajiban sholat lima kali sehari semalam, kewajiban puasa ramadhan, kewajiban haji, kewajiban zakat, kewajiban berjihad berperang melawan orang-orang kafir dan yang sejenis adalah bersifat qoth’I Tsubut dan qoth’I dalalah. Oleh karena itu jika ada orang yang tidak beriman terhadap dalil tersebut maka orang itu telah kafir. Dalam persoalan-persoalan tersebut diatas tidak boleh beda pendapat sama sekali.

B. Berbeda Masalah Furu’ud Dien Dibolehkan

Mengapa harus berbeda?…satu kata satu pandamngan kan enak! Dari sisi kemanusian perbedaan itu memang tidak bisa dihindari karena satu orang memiliki satu pemikiran. Sehingga kalau seratus orang bisa jadi seratus pendapat juga. Manusia memiliki potensi akal. Adapun dari sisi dalil, memang dalilnya bersifat dhonni (dugaan kuat) sehingga makana yang dimaksud memungkinkan dipahami lebih dari satu pemikiran. Disinilah letak dasar terjadinya perbedaan. Sehingga secara alami memang wajar bisa muncul perbedaan diantara kaum muslimin. Memang ada satu rambu yang harus diikuti, yakni terjadi perbedaab pendapat tentang suatu masalah dari satu pemahaman makna dalil, maka seorang muslim harus berusaha sekuat tenaga mengerahkan kemampuan untuk memilih yang lebih kuat pendapatnya. Tidak harus setiap masalah fiqih harus satu pemahaman karena sifat dalilnya yang memang sudah memungkinkan terjadi beda pemahaman. Berbeda dalam hal sebatas perbedaan masalah furu’ dibolehkan oleh syara’, maka kaum muslimin harus tetap menjaga persatuan di antara kaum muslimin dengan sekuat tenaga. Tidak perlu antara pengikut paham organisasi Muhammadiyah dengan NU atau dengan Al Irsyad atau dengan Al Khairiyah, atau dengan Hizbut Tahrir, Hyatullah, FPI, PERSIS dan yang lainnya terjadi perpecahan. Karena perpecahan diantara mereka akan memporak-pondakan sendi-sendi persatuan perjuangan kaum muslimin menegakkan syari’at Allah swt diatas muka bumi ini. Tidak perlu terjadi saling mengkelaim bahwa kelompoknyalah yang benar sendiri dan dijamin masuk surga sedang yang lain mesuk neraka karena tidak sependapat dengan pendapatnya. Utamakan persatuan untuk bersama-sama menggalang kekuatan dalam rangka perjuangan menegkan syari’at Allah swt. Sebagaimana dicontohkan para sahabat yang agung, perbedaan pendapat yang terjadi diantara mereka tidak sampai mengoyak persatuan mereka dibawah wadah Al Jama’ah minal muslimin. Sebagai contoh perbedaan pendapat (Ikhtilaf) yang terjadi di antara para sahabat dalam masalah Furu’ sebagai berikut :

Sewaktu Nabi saw dan para sahabatnya jihad perang khandak yang di menagkan kaum muslimin mereka tidak langsung pulang. Tetapi mereka diseru oleh Nabi saw. Untuk langsung berangkat jihad melawan Israel Bani Qraidhah karena telah menlanggar perjanjian dengan negara Islam yang berdaulat. Di tengah-tengah persiapan pasukan rupanya Nabi saw. Menginginkan segera sampai di daerah Bani Quraidhah. Nabi saw bersabda : ‘’Janganlah salah seorang dari kalian melaksanakan Shalat Ashar kecuali di (daerah) Bani Quraidhah’’ maka para sahabat ketika di tengah perjalanan waktu Ashar mau habis mereka berhenti dan bertukar pikiran mengenai Shalat Ashar tersebut. Kemudian mereka berselisih pendapat terhadap seruan Nabi saw diatas. Diantara mereka ada yang melaksanakan shalat ashar di tengah perjalanan karena waktu shalat ashar mau habis. Mereka memahami maksud dari ucapan Nabi saw. Tersebut adalah menyuruh segera berangkat dan berjalan dengan cepat-cepat hingga karena jalan cepat itu waktu shalat ashar itu masih ada ketika pasukan sudah sampai di Bani Quraidhah. Dengan demikian pasukan bisa melaksanakan shalat ashar di daerah Bani Quraidhah. Adapun sebagian sahabat yang lain tetap tidak melaksanakan shalat ashar ditengah perjalanan. Mereka akan shalat ashar nanti setelah sampai di Bani Quraidhah. Mereka demikian karena memahami ucapan Nabi saw. Memang pasukan dilarang shalat ashar kecuali di daerah Bani Quraidhah. Meskipun ternyata mereka melaksaakan shalat ashar di Bani Quradhah telah habis waktunya. Ketika kepada Nabi saw tentang peristiwa ini, maka Nabi saw membenarkan semuanya. Dan sahabat tidaklah berpecah belah walaupun telah terjadi perbedaan pendapat.

Demikian juga ketika dua orang sahabat yang berselisih pendapat tentangperistiwa yang mereka alami. Ketika mereka berdua dalam keadan junub keduanya sama-sama tidak mendapatkan air untuk mendi junub. Krmudian yang mereka lakukan adalah bertayamum. Ketika keduanya mendapatkan air di perjalanan, maka sahabat yang satu mandi junub mengulangi tayamum sebelumnya, tetapi sahabat yang lain tidak mandi karena menganggap tayamum sebelumnya sudah cukup tidak perlu di ulang lagi. Dan masih sangat banyak perbedaan pendapat masalah furu’ yang terjadi di kalangan sahabat.

Adapun saat ini, perbedaan pendapat diantara kaum muslimin dibolehkan oleh Syara’ jika hanya sebatas perbedaan masalah furu’ad Dien (cabang dalam agama). Contoh berbeda masalah fiqih sahalat, tetapi masalah kewajiban shalat lima waktu tetap sama. Termasuk jika perbedaan masalah furu’ tentang fiqih satu masalah lalu membentuk jami’yah sendiri (seperti kelompok yang menganut madhzab Syafi’I, Hambali dll). Tetapi perbedaan jami’yah, kaum muslimin tetap harus berasatu dalam satu naugan syari’at islam di bawah kepemimpinan seorang khalifah. Orang-orang yang beriman di wajibkan taat kepada khalifah. Firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

‘’Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.’’ (Anisa:59)

Sabda Nabi saw.

‘’Barang siapa mentaatiku, maka ia telah taat kepada Allah, dan barang siapa menyelisihiku, maka ia telah maksiat kepada Allah. Barang siapa mentaati amir-ku, maka ia telah mentaati. Barang siapa menyelisihi amir-ku, maka ia telah menyelisihi-ku (bermaksiat kepada-ku) (dikeluarkan oleh Bukhari, 5/124, Muslim 3/1466, Ibnu Majah 2/954, Ahmad 2/253, dan Nasai 7/154). Sabda Nabi saw.

‘’Dari Arfajah Al-Asja’I ra, ia berkata: ‘’Sesungguhnya akan terjadi sepenigalanku nanti…maka barang siapa yang kamu lihat dia menigalkan jama’ah, atau bermaksud memecah-belah urusan (kesatuan) umat Nabi Muhammad saw, siapa pun orangnya, hendaklah kamu membunuhnya. Sesungguhnya tangan Allah bersama jama’ah…(HR.Nasa’I 7/92, Muslim, 3/1479, Abu Daud, 4/242, Ahmad, 4/24)

‘’Wallahu’alam’’





Kemuliaan Ahlul Yaman

18 02 2010

Kemuliaan Ahlul Yaman

Bismilahirahmanirrahim

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتَاكُمْ أَهْلَ اْليَمَن هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوْبًا اَلْإِيْمَانُ يَمَانٌ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ .

( صحيح البخاري )

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا، قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ وَفِيْ نَجْدِنَا، قَالَ : اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَامِنَا اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا، قَالُوْا : يَارَسُوْلَ اللهِ وَفِيْ نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَاْلفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

( صحيح البخاري )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“ Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya, iman adalah pada penduduk Yaman, dan hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman .” ( Shahih Al Bukhari )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Ya Allah, berkatilah Syam kami dan berkatilah Yaman kami”, mereka berkata: Ya Rasulullah, juga Najd kita..?, (Beliau diam tapi kemudian kembali berdoa): “Ya Allah, berkatilah Syam kami dan berkatilah Yaman kami” , mereka berkata: Ya Rasulullah, juga Najd kita..? ,( Rasulullah diam dan kembali berdoa ): “Ya Allah, berkatilah Syam kami dan berkatilah Yaman kami” , mereka berkata : Ya Rasulullah, juga Najd kami..??, beliau saw kemudian menjawab: “dari sana (Najd) akan muncul goncangan dan fitnah!, dan dari sana (Najd) akan muncul tanduk setan!.” ( Shahih Al Bukhari)


أَتَاكُمْ أَهْلَ اْليَمَن هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوْبًا اَلْإِيْمَانُ يَمَانٌ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ

“ Datang kepada kalian penduduk Yaman mereka lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya, iman adalah penduduk Yaman dan hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman .” ( Shahih Al Bukhari )

Penduduk Yaman hatinya sangat lembut , perasaannya sangat berkasih sayang , dan iman ada pada penduduk Yaman serta rahasia hikmah juga ada pada penduduk Yaman, yaitu penduduk Hadramaut tempat berhijrahnya Al Imam Ahmad bin Isa Al Muhajir dari Baghdad. Kebanyakan penduduk Yaman adalah orang yang berlemah lembut hatinya , sebagimana hadits sang nabi namun karena terlalu berlemah lembut dan ramah , sangat baik dan sopan tidak mau mengganggu orang lain maka zaman sekarang banyak para teroris yang masuk ke Yaman dan sembunyi disana , karena orang-orang Yaman tidak suka bermusuhan dan tidak suka berprasangka buruk , tetapi sekarang nama Yaman buruk dikatakan Yaman sebagai sarang teroris , sungguh demi Allah tidak demikian karena ulama ahlu Yaman sejak berabad –abad tahun yang lalu didakwahi pertama kali oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib kw dan sayyidina Mu’adz bin Jabal ra . Sayyidina Mu’adz bin Jabal ke Yaman Utara dan sayyidina Ali bin Abi Thalib ke Yaman Selatan, Hadramaut . Demikian dakwah kedua shahabat ini membuka Yaman menjadi wilayah muslimin , dan disabdakan oleh Rasul yang berdoa:

اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا

“ Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk wilayah Syam, Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk Yaman “

Syam adalah wilayah Jordan dan sekitarnya , mengapa Rasulullah mendoakan keberkahan untuk wilayah yaman ? , karena beliau mengetahui bahwa nanti stelah beliau wafat akan ada Al Imam Ahmad Al Muhajir keturunan beliau hijrah ke Yaman dari Baghdad dan kemudian terus menyebar . Saat ini negeri muslimin terbesar di dunia adalah Indonesia , dan yang membawa Islam ke Indonesia adalah penduduk Yaman dari keluarga Al Hamid, As Saggaf , Al Habsy dan As Syathiry, Assegaf dll, yang menyebar ke pedalaman –pedalaman Papua , Sulawesi, Pulau Jawa , mereka rela berdakwah dengan memainkan wayang mengenalkan kalimat syahadah , mereka berjuang dan berdakwah dengan kelembutan tanpa senjata , tanpa kekerasan, tanpa pasukan , tetapi mereka datang dengan kedamaian dan kebaikan .

اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا

“ Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk wilayah Syam, Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk Yaman”

Penyebaran islam terbesar adalah dari Yaman. karena negeri terbesar di muka bumi adalah Indonesia , dan Indonesia diislamkan oleh penduduk Yaman dari para Habaib kita , dan inilah keberhasilan terbesar di muka bumi , karena di negeri-negeri yang lain jumlah muslimin tidak sebanyak di Indonesia , padahal tidak ada para sahabat Rasul yang sampai ke Indonesia , maka dari mana keberhasilan itu datang tentunya dari penduduk Yaman , yaitu dari para Habaib nya , dari mana mereka ? dari doa sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Lalu ketika sang nabi mendoakan keberkahan untuk wilayah Syam dan Yaman maka diantara sahabat ada yang berkata : “ wilayah Najd juga wahai Rasulullah “, tetapi Rasul diam kemudian mendoakan lagi penduduk Syam dan Yaman , dan diantara sahabat ada yang berkata lagi : “ dan wilayah Najd wahai Rasul “, Najd adalah suatu wilayah pegunungan di Saudi Arabia , dua kali sahabat meminta rasulullah untuk mendoakan Najd , dan untuk yang ketiga kalinya Rasul menjawab : “ akan muncul goncangan dan fitnah dari tempat itu , dan terbitnya tanduk syaitan dari Najd “, demikian sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Dan benarlah Sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasalam, bahwa fitnah itu akan muncul dari wilayah ‘’Najd’’ seperti halnya (Ibn Abdul wahab adalah dari Najd dan lahir di Najd) dan hal itu diketahui oleh sayyidina Muhammad 14  abad yang silam .

Namun yang sebenarnya negeri Yaman adalah negeri yang membawa kebahagiaan dan rahmat di masa setelah wafatnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , karena telah disampaikan oleh sang Nabi bahwa Iman akan terbit pada penduduk Yaman dan Hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman . Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan hadits ini , beliau berkata bahwa hadits ini terikat pada kaum Anshar karena ternyata kaum Anshar itu adalah keturunan oarng –orang Yaman , yang mana Rasulullah telah bersabda :

مَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُمُ اللهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُمُ اللهُ

“ Barangsiapa yang mencintai Anshar maka ia dicintai Allah , dan siapa yang membenci Anshar maka ia dibenci Allah “

Anshar adalah keturunan orang Yaman , bahkan Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam An Nawawy alaihi rahmatullah menjelaskan bahwa penduduk Makkah pun ketika di masa datangnya Siti Hajar ‘alaihassalam yang ditinggalkan oleh nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang ketika itu sayyidah Hajar bersama putranya yaitu nabi Ismail alaihissalam ditinggal di Makkah, ketika itu datang kafilah dari Bani Tihamah dari Yaman , jadi penduduk Makkah pun asal muasalnya dari Yaman juga , ternyata Makkah dan Madinah awalnya juga dari Yaman , demikian pula muslimin yang sampai ke Indonesia awalnya juga dari Yaman. bukan berarti saya memuji-muji Yaman karena Guru kita orang Yaman bukan begitu maksudnya , tetapi tahqiq dari Hadits nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita lebih mengetahui dan memahami asal muasal aqidah kita , jangan sampai kita tertipu karena asal muasal aqidah telah diajarkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Diriwayatkan bagaimana indahnya budi pekerti nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat yang juga sangat tunduk kepada budi pekerti yang indah, sayyidina Ali bin Abi Thalib kw , sayyidatuna Fathimah Az Zahra Ra dan para muhajirin dan anshar mereka wangi dan harum dengan budi pekerti yang indah , dan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diriwayatkan oleh Imam Bukhari didalam kitabnya Shahih Bukhari :

أَحَبُّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقًا

“ Orang yang paling aku cintai diantara kalian adalah yang paling indah budi pekertinya “

Maka berjuanglah untuk memperindah budi pekerti kita . Kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah memperindah hari-hari kita , Allah membantu keindahan budi pekerti kita , Rabby.. sungguh hati ini keras dari bermunajat , Rabby..kami rindu untuk memperbanyak doa dalam tangis kehadirat-Mu .

‘’Wallahu’alam’’

Oleh: Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa





Penderita Kusta, Si Botak, dan Si Buta

11 02 2010

Penderita Kusta, Si Botak, dan Si Buta

Bismillahirahmanirrahim

Diriwayatkan dari Abu Hurarah ra, ia pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, bhwa Allah ingin menguji tiga orang Yahudi. Mereka adalah si penderita kusta, si botak, dan si buta. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat mendatangi penderita kusta, ‘’Apakah yang paling engkau cintai?’’ tanya malaikat. Si penderita kusta menjawab, ‘’Warna kulit yang bagus, kulit tubuh yang halus dan kesembuhan dari penyakit yang menyebabkan orang-orang membenciku.’’ Lalau malaikat mengusapkan tangannya pada tubuh si penderita kusta, dan seketika itu sembuhlah penyakitnya. Kemudian ia memberi warna kulit yang bagus. Malaikat bertanya lagi, ‘’Harta apa yang paling engkau sukai?’’ Si penderita kusta menjawab, ‘’Unta.’’ Maka malaikat memberinya seekor unta yang sedang mengandung, sembari berkata, ‘’Semoga Allah memberkatimu dengan pemberian ini.’’

Malaikat lalu pergi menemui si botak. ‘’Apakah yang paling engkau cintai?’’ tanya malaikat. Si botak menjawab, ‘’Rambut yang begus dan kesembuhan dari botak yang membuat orang-orang menghinaku.’’ Lalu malaikat mengusapkan tangan di kepalanya, maka ia pun langsung sembuh seketika dari kebotakan,  dan rambut yang bagus menghiasi kepalanya. Kemudian malaikat bertanya lagi, ‘’Harta apa yang paling engkau sukai?’’ Si botak menjawab, ‘’Sapi.’’ Maka malaikat memberinyta seekor sapi yang sedang mengandung, sembari berkata, ‘’Semoga Allah memberkatimu dengan pemberian ini.’’

Kemudian malaikat mendatangi si buta dan berkata, ‘’Apakah yang paling engkau cintai?’’ Si buta menjawab, ‘’Aku ingin Allah mengembalikan penglihatanku agar aku bisa melihat orang-orang di sekitarku.’’ Lalu malaikat mengusapkan tangannya pada mata orang buta itu, maka Allah mengembalikan penglihatannya. Kemudian malaikat bertanya, ‘’Harta apa yang paling engkau sukai?’’ Si buta menjawab ‘’Kambing.’’ Maka malikat memberinya seekor kambing yang sedang mengandung,  sembari berkata, ‘’Semoga Allah memberkatimu dengan pemberian ini.’’

Masing-masing dari ketiga hewan pemberian malaikat itu beranak-pianak hingga setiap orang dari ketiganya memiliki pengembala khususu untuk mengembalakan ternak mereka. Si penderita kusata memiliki padang gembala unta, si botak memiliki padang gembala untuk sapi-sapinya dan si buta memiliki padang gembala untuk kambing-kambingnya. Kemudian sang malaikat mendaatangi mereka satu persatu. Ia mendatangi sipenderita penyakit kusta yang suadah sembuh dengan menyamar menjadi seorang penderita kusta. Ia berkata sembari mengiba, ‘’Aku adalah orang yang malang dan kehabisan bekal perjalanan. Aku tidak bisa hidup sampai sekarang ini kecuali atas pertolongan Allah. Aku memohon kepadamu atas nama zat yang telah menganugrahimu warna kulit yang bagus, kulit yang molek, dan harta berupa unta, berilah aku bekal untuk meneruskan perjalananku.’’ Si bekas penderita kusta itu mencela, ‘’Banyak sekali permintaanmu?!’’ maka malaikat yang menyamar itu berkata, ‘’Kelihatannya aku mengenalmu, bukankah engkau dulu si penderita kusta yang fakir dan di kucilkan orang-orang, lalu Allah menganugrai semua ini?’’ Dengan dada di busungkan si bekas penderita kusta berkata, ‘’Aku adalah orang berharta dan aku mewarisi harta ini dari orang kaya pula.’’ Sang malaikat menimpalinya, ‘’Jika engkau berdusta, Allah akan mengembalikanmu seperti dulu.’’

Kemudian sang malaikat medatangi si botak yang telah dikaruniakan rambut indah, dengan menyamar menjadi seorang botak, seraya mengucapkan hal yang sama seperti yang di katakan kepada si penderita kusta. Maka malaikat mencela, ‘’Jika engkau berdusta, Allah akan mengembalikanmu seperti dulu!’’

Kemudian sang malaikat mendatangi si buta dengan menyamar menjadi seorang buta, ‘’Aku seorang ibnu sabil yang malang dan kehabisan bekal perjalanan. Aku tidak bisa hidup sampai sekarang ini kecuali atas pertolongan Allah. Aku memohon kepadamu atas nama zat yang telah mengembalikan penglihatanmu dan harta berupa kambing, berilah aku bekal untuk meneruskan perjalananku.’’ Si buta menjawab, ‘’Sungguh, dahulu aku seorang yang buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku, maka ambillah apa yang engkau inginkan dan tingalkan apa yang engkau kehendaki. Sungguh aku tidak akan keberatan engkau mengambilnya untuk kepentingan Allah yang Maha Perkasa dan Maha Mulia. Sang malaikat menjawab, ‘’Milikilah hartamu itu. Sesungguhnya aku hanya ingin menguji kalian. Allah telah meridhaimu (si buta) dan murka kepada kedua temanmu (si penderita kusta dan si botak).’’ (HR.Bukhari dan Muslim)





Zuhud

7 02 2010

Zuhud

Bismilahirahmanirrahim

Abul Abbas Sahl bin Sa’d As-Sa’idi ra berkata,

‘’Ada seorang laki-laki yang datang menemui Nabi saw dan berkata, ‘Wahai Rasulallah, tunjukanlah aku suatu amal yang jika aku kerjakan, aku akn dicintai Allah dan dicintai manusia.’ Rasulallah bersabda, ‘zuhudlah pada dunia, niscaya kamu akan dicintai Allah dan zuhudlah pada apa yang disenagi manusia, niscaya kamu akan dicintai manusia.’’(HR.Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukan bahwa Allah mencintai orang-orang yang zuhud kepada dunia, dan para ulama mengatakan, ‘’Apabila mahabbatullah merupakan maqam yang paling tinggi, maka zuhud terhadap dunia adalah hal atau keadaan yang paling utama.’’

Zuhud adalah : Baca entri selengkapnya »





Islam Agama Yang Melindungi

3 02 2010

Islam Agama Yang Melindungi

Bismilahirahmanirrahim

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

‘’Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.’’(Al-Ahzab: 53)

Diriwayatkan dari Annas ra bahwa Umar bin Khatab ra berkata, ‘’Aku sinkron dengan Tuhanku dalam empat hal.’’ Kelanjutan hadits tersebut adalah bahwa Umar bin Khatab berkata, ‘’Aku berkata, ‘’Wahai, Rasulallah, bagaimana kalau isteri-isterimu mengenakan jilbab, karna orang baik-baik dan jahat masuk ketempat mereka?’’

Lalu turunlah firman Allah Ta’ala,

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ

’Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.’’(Al-Ahzab:53)

Para ulama megatakan ayat tadi dalil bahwa Allah Ta’ala mengizinkan kaum muslimin bertanya kepada isteri-isteri Nabi saw dari balik hijab (tabir), atau bertanya tentang satu masalah yang mesti mereka jawab. Hal ini juga berlaku pada wanita-wanita selain mereka. Menurut perinsip syariat, seluruh tubuh wanita itu aurat. Karenanya, ia tidak membuka wajahnya kecuali jika ada keperluan. Seperti untuk keperluan kesaksian. Ia juga tidak boleh membka bagian manapun dari angota tubuhnya, kecuali karna kondisi darurat, misalnya untuk keperluan diagonis jika memang diperlukan.

Allah Ta’ala berfirman,

ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

‘’Cara seperti itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka’’(Al-Ahzab:53)

Maksudnya, minta sesuatu dari balik hijab (tabir) itu lebih membersihkan kalian dari pikiran-pikiran yang timbul pada kaum lelaki terhadap wanita atau wanita terhadap laki-laki. Juga lebih mampu menghilangkan kecurigaan dan tuduhan yang tidak berdasar, serta lebih mampu menjaga kedua pihak. Ini menunjukan siapapun tidak boleh percaya bahwa dirinya mampu menahan diri, lalau dia boleh berduaan dengan wanita bukan mahromnya. Ini jelas tidak dibenarkan dan tidak melakukan hal seperti itu jauh lebih baik baginya dan lebih melindungi dirinya.

Disebutkan di hadis mulia, bahwa Rasulallah bersabda,

‘’Aku tidak menigalkan sesudahku fitnah bagi kaum laki-laki yang lebih berbahaya dari wanita.’’ (HR.Bukhari).

Rasulallah saw bersabda,

’Setiap orang ditulis jatah zinanya dan itu pasti terjadi padanya. Zina mata ialah melihat (orang bukan mahram), zina telinga ialah mendengar, zina lidah ialah berbicara, zina tangan ialah memukul, zina kaki ialah berjalan (ke tempat maksiat), sedang hati menginginkan dan berandai-andai, lalu hal itu di benarkan atau dimentahkan oleh kemaluan.’’(HR.Bukhari dan Muslim)

Rasulallah saw bersabda,

‘’Janganlah kalian duduk-duduk dijalan.’’ Para sahabat berkata, ‘’Wahai Rasulallah, kita mau tidak mau mesti duduk-duduk guna ngobrol.’’ Rasulallah saw bersabda,’’Jika kalian tetap duduk-duduk dijalan, maka berikan hak kepada jalan.’’ Para sahabat berkata, ‘’apa hak jalan itu?’’ Rasulallah saw bersabda, ‘’’Menahan pandangan,menahan diri untuk tidak mengganggu, menjawab salam, menyuruh kepada kebaikan , dan melarang dari kwmugkaran.’’ (HR.Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Ummu Salamah, ra dia berkata,

‘’Kami sedang berada disamping Rasulallah saw. Maimunah juga ada disamping beliau. Lalu Ibnu Ummu Maktum datang dan itu terjadi setlah hijab diwajibkan kepada kami. Nabi saw bersabda, ‘bersembunyilah darinya!’ kami berkata, ‘Wahai Rasulallah, bukankah dia buta dan tidak dapat melihat dan tahu kita?’ Nabi saw bersabda, ‘ Apakah kalian berdua buta? Bukankah kalian berdua bisa melihat?’’(HR.Abu Daud dan Tirmidz)

Disebutkan di hadis qudsi,

’Melihat (bukan mahramnya) itu salah satu anak panah beracun iblis. Barang siapa tidak melakukannya karna takut kepada-Ku, maka aku mengantinya dengan iman dan ia rasakan rasa manisnya iman dihatinya.’’(HR.Ath-Thabrani dan Hakim)

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir ra bahwa Rasulallah saw bersabda,

’Janganlah kalian masuk ke tempat kaum wanita.’’Salah seorang dari kaum Anshar berkata, ‘’Bagaimana kerabat suami menurutmu?’’ Rasulallah saw bersabda, ‘’Kerabat suami sama dengan kematian.’’ (HR.Bukhari dan Muslim).

Imam An-Nawawi ra berkata, ‘’Makna hadis tadi ialah takut kepada kerabat suami lebih ditingkatkan, sebab fitnah sangat mungkin terjadi darinya, karna ia dapat masuk secara bebas dan berduaan dengan wanita yang menjadi isteri kerabatnya tanpa mengndang kecurigaan. Ini berbeda dengan orang yang bukan mahram. Pada umumnya manusia, tidak begitu curiga terhadap kerabat suami. Disinilah letak kematian itu. Karna itu, kerabat suami lebih diutamakan dilarang bertemu dengan wanita yang menjadi isteri kerabatnya daripada orang lain seperti telah kami sebutkan.’’

Disebutkan di hadis mulia,

‘’Wanita tidak boleh berpergian kecuali disertai mahramnya dan orang laki-laki tidak boleh masuk ketempat wanita kecuali wanita tersebut ditemani mahramnya.’’(HR.Bukhari dan Muslim)

Islam megharamkan hubungan bebas dan campur baur (ikhtilath) antara laki-laki dan dengan wanita dan menganjurkan kepada mereka menjaga jarak (menjauh) hingga dalam shalat sekalipun. Disebutkan di hadis mulia,

’Shaf kaum laki-laki yang paling baik ialah shaf terdepan dan shaf mereka yang paling jelek ialah shaf terakhir. Shaf kakum wanita yang paling baik ialah shaf terakhir, dan shaf mereka yang palig jelek ialah shaf terdepan.’’(HRMuslim)

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khunderi ra bahwa Nabi saw bersabda,

’Pada setiap pagi, ada dua malaikat berseru, ‘ Celakalah kaum laki-laki (karna ulahnya) terhadap kaum wanita. Dan, Celaklah kaum wanita (karna ulah) terhadap kaum laki-laki.’’(HR.Ibnu Majah dan Hakim)

Disebutka dihadis mulia,

‘’Jika seorang wanita memakai parfum, lalu berjalan melewati salah satu kaum agar mereka mencium aromanya, maka ia pezina.’’(HR.Abu Daud)

Juga disebutkan dihadis mulia,

‘’Wanita itu aurat, jika ia keluar, ia disambut setan.’’(HR.Tirmidz) Nabi saw menamakan wanita itu aurat dan aurat itu harus ditutup.

Makna disambut setan ialah setan mengarahkan pandangannya kepada wanita untuk menyesatkannya orang lain dengannya. Akibatnya, laki-laki terjerumus kedalam fitnah karna wanita, atau setan menjerumuskan wanita karena laki-laki, atau setan emnjerumuskannya sekaligus.

Wanita tetap berada di rumah itu lebih baik baginya daripada ia keluar rumah, bahkan untuk kepentingan shalat berjama’ah sekalipun.

Diriwayatkan dari Ummu Humaid, isteri Abu Humaid As-Said ra bahwa ia datang kepada Nabi saw lalu berkata kepada beliau, ‘’Wahai Rasulallah, aku senag shalat bersamamu.’’ Rasulallah saw bersabda,’’Aku tahu engkau senag shalat bersamaku. Tapi, shalatmu dirumahmu itu lebih baik dari shalatmu dikamarku. Shalatmu dikamarmu itu lebih dari shalatmu didesamu. Shalatmu di desamu itu lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu. Shalatmu di masjid kaummu itu lebih baik dari shalatmu di masjidku.’’ Lalu, Nabi saw menyuruh pembangunan masjid untuk Umu Humaid di bagian rmahnya yang palig dalam dan paling gelap. Ia pun shalat didalamnya hingga meniggal dunia. (HR.Ahmad)

‘’Wallahu’alam’’

(Ahmad Izzuddin Al-Bayanuni)





Jilbab

3 02 2010

Jilbab

Bismilahirahmanirrahim

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

‘’Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.(Al-Ahzab:59)

Ibnul Abbas ra berkata, ‘’Allah ta’ala menyuruh kaum wanita (jika ingin keluar rumah) untuk menutup kepala dan wajah mereka dengan jilbab, kecuali satu matanya.’’

Ulama mengatakan, jilbab ialah pakaian yang menutupi semua angota tubuh, tidak hannya sebagiannya saja. Ini dibenarkan Al-Qurtubi di tafsirnya.

Allah ta’ala berfirman,

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللاتِي لا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

’Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’’(An-Nuur:60)

Ulama mengaatakan yang dimaksud dengan Al-Qawaidu An-Nisa pada ayat tadi ialah wanita-wanita tua yang jika dilihat kaum laki-laki maka mereka (kaum laki-laki) merasa jijik karna usia tua mereka. Sedangkan wanita yang masih memiliki sisa-sisa kecantikan yang merupakan daya tarik (Syahwat) maka tidak masuk dalam cakupan ayat tadi.

Makna ayat diatas ialah wanita-wanita tua tidak berdosa jika melepas sebagian pakaian mereka, yaitu jilbab dan pakaian luar mereka serta pelapis kerudung. Sedangkan melepas kerudung, maka tetap tidak boleh.

Ulama tafsir  mengatakan wanita-wanita tua yang tidak lagi punya daya tarik tersebut, disebut secara khuisus di ayat, sebab jiwa tidak lagi tertarik pada mereka dan kaum laki-laki tidak berminat pada mereka. Karna itu, apa yang tidak diperbolekan pada selain mereka diperbolehkan pada mereka dan kewajiban menjaga diri yang melelahkan (berpakaian secara syar’i) itu di hilangkan dari mereka.

Firman Allah ta’ala,

غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ

‘’Deengan tidak menampakan perhiasan’’

Maksudnya, mereka tidak bermaksud menampakan perhiasan mereka, dengan cara melepas jilbab dan pakaian luar mereka. Tabarruj ialah, wanita memperlihatkan sisi-sisi sensualnya yang wajib ditutup. Firman Allah Ta’ala,

وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ

‘’Dan tidak menagalkan pakaian itu lebih baik bagi mereka.’’

Maksudnya, mereka tidak boleh melepas jilbab dan pakaian luar. Disini, Allah Ta’ala mengigatkan agar semua wanita dilindungi (dijaga) dan konsisten mereka untuk tetap mengenakan jilbab, seperti pemudi yang mengenakan jilbab itu lebih baik dan utama bagi mereka. Diantara bertuk Tabarruj ialah wanita mengenakan baju tipis yang memperlihatkan kulitnya, juga mengenakan kaos kaiki tipis dan tembus pandang. Diriwayatkan dari Abu Hurarah ra bahwa Rasulallah saw bersabda,

‘’Ada dua kelompok manusia penghuni neraka yang belum pernah aku lihat.(Pertama) orang yang punya cemeti seperti ekor kerbau. Mereka memukuli manusia dengan cemeti tersebut. (Kedua) wanita-wanita berakaian tapi telanjang, berjalan lengak-lengok, dan berpaling dari kebenaran, dan kepala mereka seperti punuk unta yang miring. (Kedua kelompok itu) tidak masuk surga dan tidak mencium aromanya, padahal aromanya bisa dicium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.’’(HR.Muslim)

Ulama mengatakan wanita-wanita dikatakan berpakaian sebab memang mengenakan pakaian dan mereka dikatakan telanjang sebab jika pakaian itu tipis maka pakaian tersebut memperlihatkan bentuk tubuh mereka dan sisa-sisa sensual mereka. Dan, itu haram hukumnya.

Wanita sejatinya ditutup. Karenanya, ia disyariatkan memanjangkan ekor pakaiannya (baju bagian bawah) sehasta.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulallah saw bersabda,

‘’Barang siapa menarik pakaiannya dengan sombong, maka Allah tidak melihatnya pada hari kiamat.’’ Ummu Salamah berkata, ‘’Apa yang harus dilakukan kaum wanita dengan ekor baju mereka?’’ Rasulallah bersabda, ‘’Mereka memanjang sejengkal.’’ Ummu Salamah berkata, ‘’Kalau begitu, kaki mereka terlihat?’’ Rasulallah bersabda, ‘’Mereka memanjangkan sehasta dan tidak lebih dari itu.’’(Diriwayatkan At-Tirmidzi).

Lantas bagaimana jika wanita Muslimah berjalan ditempat kotor dengan baju seperti itu?…Ummu Salamah berkata bahwa Rasulallah saw bersabda,

‘’Kotoran itu dibersihkan oleh (tempat atau tanah lain) sesudahnya.’’(Diriwayatkan Malik).

Para ulama mengatakan bahwa hadis tadi merupakan dispensasi bagi kaum wanita. Yaitu mereka diperbolehkan menyeret sarung (atau bagian bawah pakaian) mereka, karena itu lebih menutupi organ tubuh (terutama kaki) mereka.

‘’Wallahu’alam’’

(Ahmad Izzuddin Al-Bayanuni)