Berbeda Pendapat, Bolehkah?

19 02 2010

Berbeda Pendapat, Bolehkah?

Bismilahirahmanirrahim

A. Berbeda masalah Ushul’d Dien Dilarang

Adapun berbeda dalam masalah pokok agama (ushul’ud Dien) hukumnya haram. Pokok agama inilah yang menjadi pembeda. Apakah orang beriman atau kafir dilihat dari pokok agama ini (aqidah), bukan dari furu’ud Dien (perkara cabang agama). Sebagai contoh yang dilakukan Islam Jama’ah mengkafirkan orang islam di luar kelompoknya hanya dari furu’ud Dien, Yang demikian itu salah. Ushul’ud ini merupakan wilayah aqidah. Dalil-dalil yang menjadi dasar pembahasan masalah Ushul’ud D hanya yang Qoth’I (pasti, fix). Baik Qoth’I Tsubuts (pasti sumbernya). Dalil yang bersetatus Qoth’I  Tsubuts adalah Al-Qur’an dan Hadis yang Mutawatir. Sebagai contoh dalil tentang keimanan kepada Allah swt, kepada Malaikat, Kitab-kitab Allah swt. Keimanan terhadap kerasulan Nabi Muhammad saw. Tentang Qodho’ dan Qodar, Hari kiamat, Surga dan Neraka, dan dalil kewajiban sholat lima kali sehari semalam, kewajiban puasa ramadhan, kewajiban haji, kewajiban zakat, kewajiban berjihad berperang melawan orang-orang kafir dan yang sejenis adalah bersifat qoth’I Tsubut dan qoth’I dalalah. Oleh karena itu jika ada orang yang tidak beriman terhadap dalil tersebut maka orang itu telah kafir. Dalam persoalan-persoalan tersebut diatas tidak boleh beda pendapat sama sekali.

B. Berbeda Masalah Furu’ud Dien Dibolehkan

Mengapa harus berbeda?…satu kata satu pandamngan kan enak! Dari sisi kemanusian perbedaan itu memang tidak bisa dihindari karena satu orang memiliki satu pemikiran. Sehingga kalau seratus orang bisa jadi seratus pendapat juga. Manusia memiliki potensi akal. Adapun dari sisi dalil, memang dalilnya bersifat dhonni (dugaan kuat) sehingga makana yang dimaksud memungkinkan dipahami lebih dari satu pemikiran. Disinilah letak dasar terjadinya perbedaan. Sehingga secara alami memang wajar bisa muncul perbedaan diantara kaum muslimin. Memang ada satu rambu yang harus diikuti, yakni terjadi perbedaab pendapat tentang suatu masalah dari satu pemahaman makna dalil, maka seorang muslim harus berusaha sekuat tenaga mengerahkan kemampuan untuk memilih yang lebih kuat pendapatnya. Tidak harus setiap masalah fiqih harus satu pemahaman karena sifat dalilnya yang memang sudah memungkinkan terjadi beda pemahaman. Berbeda dalam hal sebatas perbedaan masalah furu’ dibolehkan oleh syara’, maka kaum muslimin harus tetap menjaga persatuan di antara kaum muslimin dengan sekuat tenaga. Tidak perlu antara pengikut paham organisasi Muhammadiyah dengan NU atau dengan Al Irsyad atau dengan Al Khairiyah, atau dengan Hizbut Tahrir, Hyatullah, FPI, PERSIS dan yang lainnya terjadi perpecahan. Karena perpecahan diantara mereka akan memporak-pondakan sendi-sendi persatuan perjuangan kaum muslimin menegakkan syari’at Allah swt diatas muka bumi ini. Tidak perlu terjadi saling mengkelaim bahwa kelompoknyalah yang benar sendiri dan dijamin masuk surga sedang yang lain mesuk neraka karena tidak sependapat dengan pendapatnya. Utamakan persatuan untuk bersama-sama menggalang kekuatan dalam rangka perjuangan menegkan syari’at Allah swt. Sebagaimana dicontohkan para sahabat yang agung, perbedaan pendapat yang terjadi diantara mereka tidak sampai mengoyak persatuan mereka dibawah wadah Al Jama’ah minal muslimin. Sebagai contoh perbedaan pendapat (Ikhtilaf) yang terjadi di antara para sahabat dalam masalah Furu’ sebagai berikut :

Sewaktu Nabi saw dan para sahabatnya jihad perang khandak yang di menagkan kaum muslimin mereka tidak langsung pulang. Tetapi mereka diseru oleh Nabi saw. Untuk langsung berangkat jihad melawan Israel Bani Qraidhah karena telah menlanggar perjanjian dengan negara Islam yang berdaulat. Di tengah-tengah persiapan pasukan rupanya Nabi saw. Menginginkan segera sampai di daerah Bani Quraidhah. Nabi saw bersabda : ‘’Janganlah salah seorang dari kalian melaksanakan Shalat Ashar kecuali di (daerah) Bani Quraidhah’’ maka para sahabat ketika di tengah perjalanan waktu Ashar mau habis mereka berhenti dan bertukar pikiran mengenai Shalat Ashar tersebut. Kemudian mereka berselisih pendapat terhadap seruan Nabi saw diatas. Diantara mereka ada yang melaksanakan shalat ashar di tengah perjalanan karena waktu shalat ashar mau habis. Mereka memahami maksud dari ucapan Nabi saw. Tersebut adalah menyuruh segera berangkat dan berjalan dengan cepat-cepat hingga karena jalan cepat itu waktu shalat ashar itu masih ada ketika pasukan sudah sampai di Bani Quraidhah. Dengan demikian pasukan bisa melaksanakan shalat ashar di daerah Bani Quraidhah. Adapun sebagian sahabat yang lain tetap tidak melaksanakan shalat ashar ditengah perjalanan. Mereka akan shalat ashar nanti setelah sampai di Bani Quraidhah. Mereka demikian karena memahami ucapan Nabi saw. Memang pasukan dilarang shalat ashar kecuali di daerah Bani Quraidhah. Meskipun ternyata mereka melaksaakan shalat ashar di Bani Quradhah telah habis waktunya. Ketika kepada Nabi saw tentang peristiwa ini, maka Nabi saw membenarkan semuanya. Dan sahabat tidaklah berpecah belah walaupun telah terjadi perbedaan pendapat.

Demikian juga ketika dua orang sahabat yang berselisih pendapat tentangperistiwa yang mereka alami. Ketika mereka berdua dalam keadan junub keduanya sama-sama tidak mendapatkan air untuk mendi junub. Krmudian yang mereka lakukan adalah bertayamum. Ketika keduanya mendapatkan air di perjalanan, maka sahabat yang satu mandi junub mengulangi tayamum sebelumnya, tetapi sahabat yang lain tidak mandi karena menganggap tayamum sebelumnya sudah cukup tidak perlu di ulang lagi. Dan masih sangat banyak perbedaan pendapat masalah furu’ yang terjadi di kalangan sahabat.

Adapun saat ini, perbedaan pendapat diantara kaum muslimin dibolehkan oleh Syara’ jika hanya sebatas perbedaan masalah furu’ad Dien (cabang dalam agama). Contoh berbeda masalah fiqih sahalat, tetapi masalah kewajiban shalat lima waktu tetap sama. Termasuk jika perbedaan masalah furu’ tentang fiqih satu masalah lalu membentuk jami’yah sendiri (seperti kelompok yang menganut madhzab Syafi’I, Hambali dll). Tetapi perbedaan jami’yah, kaum muslimin tetap harus berasatu dalam satu naugan syari’at islam di bawah kepemimpinan seorang khalifah. Orang-orang yang beriman di wajibkan taat kepada khalifah. Firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

‘’Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.’’ (Anisa:59)

Sabda Nabi saw.

‘’Barang siapa mentaatiku, maka ia telah taat kepada Allah, dan barang siapa menyelisihiku, maka ia telah maksiat kepada Allah. Barang siapa mentaati amir-ku, maka ia telah mentaati. Barang siapa menyelisihi amir-ku, maka ia telah menyelisihi-ku (bermaksiat kepada-ku) (dikeluarkan oleh Bukhari, 5/124, Muslim 3/1466, Ibnu Majah 2/954, Ahmad 2/253, dan Nasai 7/154). Sabda Nabi saw.

‘’Dari Arfajah Al-Asja’I ra, ia berkata: ‘’Sesungguhnya akan terjadi sepenigalanku nanti…maka barang siapa yang kamu lihat dia menigalkan jama’ah, atau bermaksud memecah-belah urusan (kesatuan) umat Nabi Muhammad saw, siapa pun orangnya, hendaklah kamu membunuhnya. Sesungguhnya tangan Allah bersama jama’ah…(HR.Nasa’I 7/92, Muslim, 3/1479, Abu Daud, 4/242, Ahmad, 4/24)

‘’Wallahu’alam’’

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: