Zuhud

7 02 2010

Zuhud

Bismilahirahmanirrahim

Abul Abbas Sahl bin Sa’d As-Sa’idi ra berkata,

‘’Ada seorang laki-laki yang datang menemui Nabi saw dan berkata, ‘Wahai Rasulallah, tunjukanlah aku suatu amal yang jika aku kerjakan, aku akn dicintai Allah dan dicintai manusia.’ Rasulallah bersabda, ‘zuhudlah pada dunia, niscaya kamu akan dicintai Allah dan zuhudlah pada apa yang disenagi manusia, niscaya kamu akan dicintai manusia.’’(HR.Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukan bahwa Allah mencintai orang-orang yang zuhud kepada dunia, dan para ulama mengatakan, ‘’Apabila mahabbatullah merupakan maqam yang paling tinggi, maka zuhud terhadap dunia adalah hal atau keadaan yang paling utama.’’

Zuhud adalah : berpalingnya suatu keinginan pada sesuatu yang lebih baik. Pengetahuan atau ilmu yang akan membuahkan sikap ini adalah pengetahuan yang menjelaskan bahwa sesuatu yang ditinggalkan lebih rendah dan hina dibandingkan sesuatu yang dipilih. Oleh sebab itu,  siapa yang mengetahui bahwa apa yang ada di sisi Allah akan kekal dan akhirat lebih baik dan abadi, maka dialah orangnya, sebagaimana mutiara lebih baik dan lebih kekal dari tumpukan batu es. Dunia tak obahnya bagaikan tumpukan es yang dipanaskan dibawah sinar matahari, ia akan terus meleleh hingga habis, sedangkan akhirat adalah, bagaikan mutiara yang tak akan pernah punah. Bila seorang semakin yakin akan perbedaan dunia dan akhirat, maka akan semakin kuat pulalah keinginannya untuk merebutnya. Al-Qur’an menyanjug orang yang zuhud pada dunia dan mencela orang yang cinta kepadanya, Allah berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

’Tetapi kalian (orang-orang kafir) lebih memilih kehidupan dunia. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan kekal.’’ (Al-A’laa:16-17)

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الأرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

‘’Kalian menghendaki harta benda dubiawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untuk kalian).’’ (Al-Anfal:67)

‘’Mereka bergembira dengan kehidupan didunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding) kehidupan akhirat, hanyalah kesenagan (yang tiada berarti)’’ (Ar-Ra’du:26)

Hadis tentang celaan terhadap dunia dan paparan tentang kehinaannya sangat benyak, diantaranya adalah,

Dalam Shahih Muslim, Jabir ra menceriatakan bahwa, pada suatu ketika Nabi saw bersama para sahabat melintasi sebuah pasar, Nabi melihat bangkai seekor kambing yang cacat, kambing yang sudah menjadi bangkai itu dia pegang, kemudia Nabi bertanya, ‘siapa diantara kalian yang mau membelinya seharga satu dinar?’ para sahabat menjawab, ‘ sungguh kami tidak menginginkannya sekalipun dengan harga termurah, karna kamu tidak akan dapat memanfaatkannya’ Nabi kembali bertanya, ‘maukah kalian memilikinya secara geratis?’ para sahabat menjawab, ‘ demi Allah, walaupun kambing ini masih hidup, ia pun cacat fisik, apalagi ia sudah menjadi bangkai?’ Nabi bersabda, ‘demi Allah, dunia ini lebih hina dihadapan Allah dari bangkai kambing ini’’

Dalam shahih Muslim, Mustauri bin Syaddad Al-Fihri menceritakan dari Nabi saw, dia bersabda,

‘’Bila dunia dibandingkan dengan akhirat, maka ia seperti seorang yang memasukan jarinya ke lautan, lalu ia akan menyadari seberapa banyak air laut yang akan menempel diujung jarinya.’’

Tirmidzi mengelurkan dari hadis Sahl bin Sa’d bahwa Nabi saw bersabda,

‘’Andaikan dunia disisi Allah setara dengan salah satu sayap nyamuk, maka dia tidak akan meberi minum orang kafir walau setenguk air saja.’’

Zuhud berpaling dari sesuatu karena mengangapnya tiada berarti dan hina, serta tidak tertarik untuk memanfa’atkannya. Dikatakan ‘’Sesuatu yang zuhud jika ia tidak bernilai dan hina.’’

Yunus bin Maisarah mengatakan, ‘’Zuhud terhadap dunia, bukanlah berarti mengharamkan yang halal, dan bukan pula dengan menghambur-hamburkan harta benda. Tetapi, yang dimaksud dengan zuhud terhadap dunia adalah bahwa anda lebih meyakini apa yang ada disisi Allah daripada apa yang ada di tangan anda sendiri, sikap anda ketika di timpa musibah dan ketika mendapat nikmat adalah sama, dan bila ada orang yang memuji dan mencaci anda, ketika itu anda memperlakukan mereka dengan perlakuan yang sama pula.’’

Dia memaknai zuhud terhadap dunia dengan tiga perkara yang keseluruhanya merupakan amalan hati, bukan amalan angota badan, karena lasan ini lah Abu Sulaiman berpesan, ‘’Janganlah anda memberikan kesaksian kepada seseorang tentang kezuhudanya.’’

Pertama, seorang hamba dengan apa yang di tangan Allah lebih yakin daripada apa yang ada di tangannya, dan ini muncul dari ketulusan keyakinan dan kekuatannya. Ditanyakan kepada Abu Hazim Az-Zahid, ‘’Apa saja harta yang anda miliki?’’ Dia menjawab, ‘’Dua harta yang membuatku tidak pernah takut miskin: Percaya kepada Allah dan tidak berharap pada apa yang ada di tangan manusia.’’ Dia ditanya lagi, ‘’Tidakkah anda takut miskin?’’ Dia menjawab, ‘’Aku takut miskin, padahal Allah memiliki apa yang ada di langit dan di bumi, apa yang ada diantara keduanya, serta apa yang ada di perut bumi?’’

Al-Fudhail berkata, ‘’Asal zuhid adalah ridha kepada Allah,’’ dia juga berkata, ‘’Orang-orang yang qana’ah adalah orang zuhud, dia adalah orang yang kaya ; siapa yang mengejawan-tahkan keyakinan, akan mempercaayakan semua urusanya kepada Allah, ridha dan menerima serta menjalanakan aturan-Nya, memutus ketergantungan kepada semua makhluk baik berupa harapan ataupun kekhawatiran, hal itu akan memicunya untuk menolak mencari dunia dengan usaha-usaha yang tidak halal, dan siapa yang keadaannya seperti itu, dialah orang yang zuhud sebenarnya dan dia orang yang terkaya diantara manusia, kendatipun dia tidak memiliki sedikitpun harta benda duniawi.’’ Seperti yang dikatakan oleh Ammar, ‘’Cukuplah kematian sebagai pelajaran yang paling berharga, cukuplah keyakinan sebagai kekayaan yang sempurna, dan cukuplah ibadah sebagai kesibukan.’’

Abdullah bin Mas’ud berkata ra berkata, ‘’Yakin adalah bahwa anda tidak mebuat orang lain senag dengan kemurkaan Allah, tidak iri kepada seseorang karna rizki yang di berikan Allah, dan tidak mencaci seseorang atas apa yang tidak di berikan Allah kepada anda, sebab rizki Allah tidak akan dapat di datangkan oleh kerakusan orang yang rakus, dan tidak dapat ditolak oleh ketidak senagan orang yang tidak senang, karna Allah dengan keadilan-Nya, ilmu-Nya, dan hikmah-Nya, menyertakan kenyamanan, dan kegembiraan dalam keyakinan dan ridha, dan meletakan kesusahan dan kesedihan dalam kemurkaan dan keraguan.’’

Kedua, bila seorang hamba ditimpa sesuatu musibah duniawi, seperti lenyapnya harta, anak atau lainnya, dia lebih mencintai pahalanya daripada tetapnay dunianya yang hilang darinya. Ini juga akan tumbuh dari keyakiann yang sempurna.

Ali ra berkata, ‘’Siapa yang zuhud terhadap dunia, maka semua musibah tidak akan berarti baginya.’’

Seorang ulama salaf berkata, ‘’Kalau bukanlah karena musibah, tentu kita akan datang keakhirat sebagai orang-orang yang bangkrut.’’

Ketiga, seorang hamba akan memperlakukan orang yang memuji dan mencacinya dalam kebenaran dengan perlakuan yang sama. Tetapi bila seorang hamba menganggap dunia lebih mulia, maka dia akn menyukai pujian dan membenci cacian, dan boleh jadi hal tersebut akan memicunya untuk menolak kebenaran karena takut dicela, dan melakukan banyak kebathilan karena mengharapkan pujian. Siapa yang menganggap sama pujian dan cacian dalam kebenaran, maka itu menunjukan rendahnya kedudukan makhluk dalam hatinya, dan hatinya dipenuhi oleh rasa cinta kepada kebenaran, dan apa saja yang akan mengundang ridha-Nya, seperti dikatakan oleh Ibnu Mas’ud ra, ‘’Yakin adalah bahwa anda tidak membuat manusia senang walaupun harus melakukan sesuatu yang harus mengundang murka Allah.’’

Allah memuji orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dan tidak takut pada celaan orang-orang yang mencela. Dan sudah cukup banyak riwayat yang menjelaskan tentang makna zuhud dari kalangan salaf.

Hasan berkata, ‘’Orang zuhud adalah orang yang jika melihat orang lain dia mengatakan, dia mungkin lebih zuhud dari aku.’’

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang mempunyai harta banyak : apakah dia dikatagorikan pada orang yang zuhud?’’ Dia menjawab, ‘’ Jika dia tidak gembira karena harta bertambah dan tidak sedih karena berkurang , maka dia adalah orang yang zuhud.’’

Ibrahim bin Adham berkata, ‘’Zuhud ada tiga jenis : Zuhud fardhu, Zuhud sunnah, dan Zuhud selamat : Zuhud fardhu adalah zuhud terhadap sesuatu yang haram, Zuhud sunnah adalah zuhud terhadap sesuatu yang halal, dan Zuhud selamat adalah  zuhud terhadap sesuatu yang suyubhat.’’

Siapa yang menjual dunia dengan akhirat, maka dia adalah orang yang zuhud terhadap dunia, sementara orang yang menjual akhirat dengan dunianya, maka dia juga termasuk zuhud, tetapi zuhud terhadap akhirat, zuhud seperti ini tidak terpuji.

Ada seorang laki-laki yang berkata kepada seorang shaleh, Aku belum pernah melihat orang yang lebih zuhud dari anda.’’ Dia menjawab, Anda lebih zuhud dari aku, aku zuhud terhadap dunia yang tidak kekal dan tidak pernah jujur, sementara anda zuhud terhadap akhirat, maka siapa lagi yang lebih zuhud dari anda?’’

Tetapi biasanya kata zuhud hanya dipakai untuk zuhud terhadap dunia. Selain itu juga zuhud terhadap apa yang ditakdirkan, karenanya, ketika dikatakan kepada Ibnul Mubarak, ‘’Hai orang yang zuhud.’’ Dia menjawab, ‘’Orang yang zuhud adalah Umar bin Abdul Aziz, sebab ketika dunia mendatanginya secara melimpah, dia melah meniggalkannya ; sedang aku terhadap apa aku zuhud?!’’

Hasan Basri berkata, ‘’Aku bertemu dengan beberapa kelompok manusia dan akau bergaul dengan banyak golongan, mereka tidak gembira karena memilimi dunia, mereka tidak sedih karena apa yang mereka miliki hilang dan punah, bahkan mereka menganggap dunia lebih hina. Salah seorang dari mereka hidup setahun atau enampuluh tahun hanya dengan pakaian sepasang saja, tidak pernah mendapatkan kedudukan, mereka hanya tidur tanpa alas atau tikar dan tidak pernah menyuruh siapapun untuk membuatkan makanan dirumahnya. Tetapi bila malam telah tiba, mereka tegak berdiri, menelungkupkan wajah ketanah (bersujud), air mata mereka mengalir di pipi, mereka bermunajat kepada Allah memohon pembebasan. Bila mengerjakan satu kebaikan, mereka terus menerus mensyukurinya, dan selalu bermohon kepada Allah agar kebaikan itu diterima disisi-Nya. Dan jika mengerjakan kejahatan, mereka akan sangat sedih dan meminta agar diampuni oleh Allah swt, mereka tetap seperti itu, dan demi Allah, mereka tidak akan selamat dari dosa, dan tidak akan bebas, kecuali dengan ampunan, kiranya rahmat Allah dan keridhaan-Nya akan selalu menyertai mereka.’’

Tingkatan-Tingkatan Zuhud :

Tingkatan pertama,

Zuhud terhadap dunia, padahal dia menginginkannya, hatinya cenderung ingin memiliki, dan hawa nafsunya pun menoleh padanya, tetapi dia berusaha memerangi dan menahannya, inilah yang dinamakan mutazahhid (orang yang berusaha zuhud).

Tingkatan kedua,

Orang yang menigalkan dunia dengan senag hati dan suka rela, karena mengangapnya hina bila dibandingkan dengan apa yang diinginkannya, namun dia masih melihat zuhudnya dan menginginkannya, seperti orang yang menigalkan satu dirham untuk mendapatkan dua dirham yang lain.

Tingkatan ketiga,

Zuhud terhadap dunia dengan senag hati dan suka rela dan zuhud terhadap zuhud itu sendiri, dia tidak menganggap dirinya telah menigalkan sesuatu, maka ia seperti orang yang meniggalkan keramik demi mutiara. Pada tingakatan ini diumpamakan seperti orang ingin bertemu dengan sang raja, namun terhalang karena adanya seekor anjing di pintu, lalu dia berrusaha memberinya sepotong roti agar anjing tersebut tidak lagi menghalanginya, lalu dia masuk menghadap sang raja, dan berhasil menjadi orang yang dekat dengannya. Setan adalah anjing di pintu Allah yang selalu berusaha menghalangi manusia untuk mesuk kepintu-Nya, padahal pintu-Nya selalu terbuka dan tirai-Nya selalu tersingkap, dan dunia laksana sepotong roti, maka siapa yang menigalkannya untuk memperoleh kehormatan disisi raja, bagaimana mungkin dia akan menoleh lagi kepadanya.

‘’Wallahu’alam’’

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: